Kapal kami bergerak perlahan ketika mendekati lorong kecil yang diapit oleh berlusin tanaman mangrove. Teriknya matahari Pulau Seribu tidak lagi menyengat kulit kami, digantikan oleh sejuk udara yang menyelinap dari daun-daun lebar. Sunyi dan syahdu - mesin kapal tidak lagi menderu agar tidak merusak akar mangrove yang sudah tertanam puluhan tahun. Beberapa dari kami merekam menggunakan handphone, sebagian memekik ketika melihat ikan-ikan kecil berenang di antara akar mangrove. Siapa sangka berkunjung ke hutan mangrove Pulau Pari adalah bentuk healing yang kami butuhkan?
Sembari kapal mengarungi hutan mangrove yang rimbun, kami mendengarkan penjelasan para ibu dari komunitas Perempuan Pulau Pari. Mereka memaparkan bahwa mangrove melindungi pesisir mereka selama puluhan tahun, melawan abrasi dan menjaga agar Pulau Pari tidak tenggelam. Selain itu, Ibu Siti, salah satu anggota Perempuan Pulau Pari yang duduk di kapalku, juga bercerita tentang produk olahan mangrove. "Bisa dibikin keripik sama sirup, lho! Cuma kita lagi nggak ada," ujar Bu Siti sambil terkekeh.
Mangrove dan pangan - tema yang dibawa oleh Eco Blogger Squad dalam webinar Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat menjadi trigger yang membawaku ke pesisir Pulau Pari. Mangrove bukan hanya melindungi pesisir dan menggerakan perekonomian masyarakat, tetapi juga menjadi sumber ketahanan pangan. Pulau Pari dan Raja Ampat berjarak hampir 3,000 km, tapi mangrove-nya punya fungsi yang sama!
Peran Penting Mangrove Bagi Masyarakat Raja Ampat
Webinar Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat yang diselenggarakan oleh Eco Blogger Squad (EBS) dan The Asia Foundation (TAF) mengajak kami melihat Raja Ampat dari perspektif lain. Generally, kita akrab dengan Raja Ampat sebagai heaven on Earth - destinasi wisata yang cantiknya nggak kaleng-kaleng. Namun jika dilihat lebih dalam, Raja Ampat juga menyimpan banyak cerita tentang kekayaan alam, konservasi, dan peran komunitas lokal.
Kisah tentang mangrove di Raja Ampat dibawakan oleh Bung Daniel Kbarek (Program Officer TAF) dan Bang Steve (Program Manager PKPRA) yang menetap di Papua. Aku dan teman-teman blogger diajak wisata online ke Desa Friwen, Kecamatan Raja Ampat, yang memiliki wilayah Mangrove Doredor. Selama puluhan generasi, masyarakat Desa Friwen memperoleh manfaat dari hutan mangrove dan menjaganya seperti ibu sendiri.
Manfaat hutan mangrove untuk masyarakat pesisir, khususnya di Raja Ampat, adalah:
- Melindungi wilayah pesisir dari abrasi
Akar mangrove yang kuat dapat menahan aliran air dan ombak besar yang datang ke garis pantai
- Mendukung sektor perikanan
Mangrove berfungsi sebagai tempat pemijahan ikan alami serta menyediakan nutrisi dan air bersih untuk pembudidayaan ikan
- Menjadi habitat alami untuk biota laut
Hewan laut seperti udang hidup dan berkembangbiak di hutan mangrove. Masyarakat dengan mudah mendapatkan sumber protein hewani mereka karena adanya mangrove
- Mendukung perekonomian
Mangrove dapat dikembangkan menjadi tempat wisata, pembudidayaan ikan, kerajinan tangan, hingga produk makanan yang diperjual-belikan oleh masyarakat.
- Membangunan ketahanan terhadap perubahan iklim
Mangrove mampu menyimpan karbon, mempertahankan kualitas air, dan memberikan perlindungan bagi masyarakat terhadap dampak krisis iklim, seperti perubahan cuaca dan musim panen hingga bencana alam.
Namun, mangrove memiliki peran yang spesial di Desa Friwen. Buah mangrove - dikenal oleh masyarakat dengan nama aibon - adalah sumber karbohidrat masyarakat secara turun-temurun. Buah mangrove jenis pedada, lindur, dan Bruguiera dapat diolah menjadi tepung dan dijadikan bahan utama untuk membuat mie, roti, cookies, hingga keripik.
Meskipun banyak dari kita baru tahu bahwa buah mangrove bisa dimakan, olahan mangrove sudah menjadi konsumsi umum bagi masyarakat Desa Friwen. Bung Steve, pembicara yang menetap di Raja Ampat, juga bercerita bahwa gubernur Raja Ampat sempat mencicipi makanan dari mangrove dan terharu karena mengingat masa kecilnya. Hal ini menjadi bukti simpel tentang pentingnya buah mangrove dalam sistem pangan masyarakat Raja Ampat.
Perempuan, Pangan, dan Krisis Lingkungan
Mari kembali menapak kunjunganku ke Pulau Pari di awal artikel ini. Salah satu tujuanku berkunjung ke Pulau Pari adalah bertemu dengan komunitas Perempuan Pulau Pari, kelompok perempuan (ibu-ibu, to be specific) yang berperan melindungi ekosistem. Mereka menanam mangrove, membuat kebun dengan rumah kaca, mengolah buah mangrove dan hasil kebun, hingga melawan pembangunan resort sampai ke pengadilan internasional. Lewat pertemuan tersebut, aku belajar bahwa perempuan sering jadi garis terdepan untuk penanganan krisis iklim.
Begitupun dengan para perempuan - atau akrab disebut mama - di Raja Ampat! Secara kultur, perempuan tidak punya hak milik atas tanah atau hutan. Tetapi sejak deforestasi yang cukup masif terjadi di Desa Friwen, perempuan mulai melawan. The Asia Foundation dan komunitas Kawan Pesisir berkolaborasi dengan para perempuan Raja Ampat untuk melindungi hutan mangrove. Mereka melakukan pembibitan dan penanaman mangrove, patroli hutan, dan memanfaatkan mangrove untuk bahan kerajinan dan pangan.
Perempuan berperan besar dalam bidang pangan. Dalam berbagai masyarakat adat dan komunitas lokal, perempuan memiliki keterampilan dalam mengolah bahan makanan, mengidentifikasi jenis tanaman yang dapat dimakan, hingga membuat resep secara turun-temurun. And yes, di Raja Ampat, para mama menyulap buah mangrove menjadi berbagai hidangan yang unik dan lezat!
"Tradisi itu tidak kalah dari teknologi modern," papar Bung Steve - yang langsung aku setujui tanpa berkelit. Ia bercerita tentang cara mama-mama di Raja Ampat mengolah buah mangrove secara turun-menurun. Buah mangrove mengandung tannin, senyawa yang menyebabkan rasa sepat dan kalau terlalu banyak bisa berbahaya untuk tubuh manusia. Nah, para mama menerapkan cara pengolahan secara turun-menurun untuk memastikan buah tersebut bebas tanin dan bisa diolah menjadi tepung. Saat teknologi modern masuk, ternyata hasil lab menyatakan cara pengolahan tradisional dan modern tidak ada bedanya.
“Karena ada hutan, kitorang perempuan itu hidup. Di Papua kita mau jaga hutan kita perkuat perempuannya, ketika perempuan itu kuat maka bangsa itu juga menjadi kuat," tegas Mama Loesye, champion konservasi mangrove yang mendapat penghargaan dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove. 100% - perempuan punya peran besar untuk menjaga hutan dan lingkungan!
Kopi dan Peran Gandanya (Disclaimer: Lebih dari Your Morning Latte)
Mangrove adalah satu dari sekian banyak tanaman di Indonesia yang memiliki peran ganda, khususnya untuk kelestarian lingkungan. Another example yang mungkin luput dari mata kita adalah kopi, minuman yang dekat banget dengan kehidupan kita sehari-hari.
"Hidup akan baik-baik aja selama masih ngopi," begitulah kata Gen Z (termasuk SAYA!). Kopi adalah minuman yang jadi pondasi bagi kehidupan masyarakat modern. Nggak fokus kerja? Beli kopi. Ketemu teman lama? Sambil ngopi. Pengen yang manis-manis? Beli kopi. Rasanya kalau sehari nggak beli kopi, ada yang kosong gitu! Tapi sebelum jadi aren latte favoritmu, kopi adalah tumbuhan yang punya banyak peran di ekosistem.
Kopi berasal dari tanaman belukar atau pohon dengan genus Coffea. Pohonnya memiliki daun yang lebar, punya banyak cabang, dan tumbuh subur di ketinggian 700 - 1.600 mdpl. Kita kenal dengan dua jenis kopi: Arabika dan robusta. Mereka berasal dari pohon beda spesies, yaitu Coffea arabica dan Coffea robusta. Kita tentu tahu bahwa tanaman ini menjadi precious karena menghasilkan biji kopi, tapi kalau belum berbuah bagaimana?
Content creator manifestation atau life coach suka bilang, "Your value is not in what you produce" - nilai diri kita tidak bergantung pada hal yang kita buat atau capai. Nah, tumbuhan kopi pun begitu! Walau - seandainya - dia nggak menghasilkan buah kopi, tumbuhan kopi punya banyak manfaat untuk ekosistem. Dia sangat valuable buat tanah, hewan, hingga mikrobia di sekitarnya.
Selain dimanfaatkan bijinya, tanaman kopi memiliki berbagai peran seperti:
- Menjaga Kualitas Tanah dan Mencegah Erosi
Tanaman kopi memiliki sistem akar tajuk yang kokoh sehingga dapat membantu menahan laju aliran air dan mempertahankan zat hara di sebuah daerah
- Penyerap Karbon
Kopi dapat menyerap CO2 dan menggunakannya untuk fotosintesis
- Mendukung Biodiversitas
Tanaman kopi dapat menjadi rumah untuk berbagai hewan, seperti burung dan serangga
- Rehabilitasi Lingkungan
Penanaman kopi dapat berfungsi sebagai langkah penghijauan kembali (reforestasi) untuk lahan-lahan gundul atau terdegradasi sambil tetap memberikan hasil ekonomi yang ramah lingkungan bagi masyarakat
Another fun fact: Ada tanaman kopi yang secara alami tumbuh di hutan bernama liberika. Tanaman ini adalah bagian dari biodiversitas hutan Indonesia.
Jaga Hutan, Jaga Pangan, Jaga Masa Depan
Melihat peran penting mangrove di Raja Ampat maupun Pulau Pari, kita diingatkan bahwa menjaga alam berarti menjaga semua lapisan yang ada di dalamnya. Hutan mangrove yang selama ini kita kenal sebagai tempat wisata atau penjaga dari abrasi ternyata berperan penting untuk perekonomian, budaya, dan ketahanan pangan masyarakat. Dan tentu saja, kita belajar bahwa masyarakat adat dan komunitas lokal telah lebih dahulu menjaga dan melestarikan alam di sekitar mereka. Kearifan lokal yang mereka miliki seharusnya menjadi panutan kita untuk menjaga alam.
Hal inilah yang menjadi salah satu bahasan dalam Bangkok Climate Action Week 2026. Konferensi iklim internasional ini mengangkat solusi iklim berbasis komunitas adat, memberikan apreasiasi untuk kearifan lokal dan usaha masyarakat adat untuk melestarikan bumi. Dan di Raja Ampat, mereka melestarikan hutan dan memastikan generasi di masa depan menikmati manfaat dari alam melalui pangan.
Komentar
Posting Komentar