Frasa "pangan lokal" tengah naik daun di tahun 2026 ini. Di tengah maraknya makanan modern seperti dubai chewy cookie atau tteokbokki di pasaran, makanan dan camilan khas Indonesia perlahan dicari kembali oleh masyarakat, termasuk Gen Z. Banyak orang kembali memeluk konsep back to the roots - kembali ke akar, kembali ke sesuatu yang familiar, termasuk makanan. Umbi-umbian, kue tradisional seperti nona manis, sampai makanan berat khas Indonesia kembali jadi tren makanan.
Pangan lokal juga jadi salah satu trend sosial media berkat beberapa content creator seperti @black.sheep8028 atau "Ibu Kimpul". Lewat konten yang lucu dan relatable, sang content creator berhasil memperkenalkan pangan lokal, yaitu umbi kimpul, ke audiens luas terutama Gen Z. Kimpul dan umbi lokal lain mulai dilirik, diversifikasi pangan jadi topik yang digemari masyarakat.
Beruntungnya, pangan lokal mulai trending, aku berkesempatan main ke Seniman Pangan di Perumahan Vida Bekasi bersama EcoBlogger Squad. Di tengah panasnya Kota Bekasi, terdapat sebuah cafe mungil yang menyajikan produk khas berbagai daerah di Indonesia, seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur. Bahkan, mereka punya kebun seluas tujuh hektare (dengan tiga hektare lahan produktif) yang ditanami berbagai tumbuhan lokal.
Sebagai seorang lulusan Teknologi Pangan, aku senang sekali bisa 'terjun' kembali ke bidang ilmuku setelah fokus dengan pekerjaan sebagai Content Marketer selama 3.5 tahun. Sebagai Gen Z yang suka menyibukkan diri, it's super fun untuk menemukan kegiatan yang niche dan hidden gem di luar ke Blok M, cari jajanan viral, atau padel.
Apa saja yang kami pelajari dan lakukan di Seniman Pangan?
Apa Itu Seniman Pangan? - Deskripsi, Tujuan, dan Produk
Apa yang Bisa Dilakukan di Seniman Pangan?
Tur Kebun
"Masa iya ada kebun seluas tiga hektare di Bekasi?" mungkin rangkuman DM dari teman-temanku saat aku posting tentang Seniman Pangan di Instagram. Hal itu saja sudah terkesan "anomali", apalagi kalau sampai tahu kalau kebun itu ditanami tebu yang diambil langsung dari Papua dan tanaman telang yang sangat lebat?
Kebun milik Seniman Pangan ditanami berbagai tanaman pangan dan obat, seperti tebu, singkong, telang, sereh, kemangi, tomat, peppermint, hingga centella. Mamah Etih Suryatin (Bu Eet), Partnership Director Seniman Pangan, memimpin tur kebun kami dan menceritakan kisah petualangan beliau keliling Indonesia dan hidup bersama masyarakat adat. Kami mengenal bagaimana pangan lokal bisa dibawa ke Jakarta, bagaimana masyarakat adat mencintai pangan mereka namun merasa minder untuk menyajikannya ke tamu, sampai bagaimana Seniman Pangan membantu mereka merasa bangga dengan pangan khas daerah.
Mendengar cerita Bu Eet memang luar biasa, ditambah dengan pengalaman tur kebun yang immersive! Selain berkeliling, kami bisa memetik langsung hasil kebun, mencicipinya, bahkan ikut menanam tanaman. Kapan lagi nyobain air tebu langsung dari pohonnya di tengah-tengah BEKASI? Selain itu, aku juga mencoba buah dan sayur unik lain seperti peppermint, belimbing wuluh, dan bunga telang.
Workshop Selai dan Sirup
Seniman Pangan juga punya workshop produk dimana kamu bisa belajar cara membuat produk dari bahan-bahan yang ditemukan di kebun. Aku dan EcoBlogger Squad dapat kesempatan untuk belajar membuat sirup kemangi (beneran) dan selai rosella. Workshop ini dipimpin oleh Corazon Nikijuluw (Kak Cora), Food Technology Manager di Seniman Pangan. Kak Cora inilah yang menjadi otak utama produk-produk milik Javara x Seniman Pangan yang sangat menarik dan mindblowing - jadi belajar langsung dengan beliau is a very great opportunity!
Aku terjun langsung untuk membuat sirup kemangi. Iya, daun yang biasanya buat lalapan khas Sunda malah dijadiin sirup. Kami dibantu oleh chef dari Seniman Pangan untuk memetik dan membersihkan daun kemangi, melakukan blanching, mencampur dengan larutan gula kental, hingga menghasilkan sebotol kecil sirup kemangi.
Rasanya? Segar banget! Ada rasa minty alias semriwing khas kemangi, tapi sepat dan rasa 'sayurnya' sudah hilang. Kami juga disajikan sirup yang dicampur jus jeruk. Rasanya? Top banget!
Makan Menu Lokal
Pangan Lokal Menjaga Tradisi Masyarakat Adat dan Lingkungan
Main ke Seniman Pangan bersama EcoBlogger Squad membuatku sadar bahwa masyarakat adat di Indonesia itu kaya raya - orang have kalau pakai istilah zaman sekarang. Mereka punya tradisi yang bertahan selama ratusan generasi, hutan dan alam yang memenuhi kebutuhan mereka, hingga menu makanan yang membuat mereka sehat.
Semakin pangan lokal dikenal, semakin terjaga tradisi dan kekayaan alam masyarakat adat. Salah satu cara sederhana untuk menghargai budaya dan legacy masyarakat adat adalah dengan mengonsumsi dan menghargai pangan lokal mereka. Bahkan kalau kamu hidup jauh dari mereka sekalipun, produk pangan yang kamu beli bisa jadi suara dukungan untuk mereka.
Kunjungan kami ke Seniman Pangan tanggal 9 Agustus lalu mengingatkan aku akan pentingnya Hari Masyarakat Adat Internasional. Masyarakat adat telah menjaga alam Indonesia dan memiliki berbagai menu makanan yang luar biasa - saatnya kita menjaga tradisi mereka dan memastikan mereka hidup sejahtera di bumi Indonesia.

Komentar
Posting Komentar