- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Nama
‘Rinjani’ jelas sudah akrab di telinga para penggiat alam bebas. Bahkan
mungkin ada dalam bucket list mereka. Gunung yang berdiri dengan
ketinggian 3.726 meter dari permukaan laut (MDPL) ini menjadi primadona tanah air. Berbondong-bondong wisatawan datang dan mencicipi keindahan Gunung
Rinjani. Bahkan, wisatawan mancanegara tidak absen untuk mendaki Rinjani jika
punya kesempatan berkunjung ke Indonesia. Jika kita berselancar di Google,
akan ditemukan ratusan foto yang memamerkan kemolekan Gunung Rinjani. Ada
ambisi muncul ketika mendengar status Rinjani sebagai puncak tertinggi nomor
tiga di Indonesia, setelah Cartensz Pyramid dan Kerinci. Namun apakah pendakian
Rinjani sepenuhnya manis? Apakah Rinjani sebatas menawarkan keindahan Segara
Anak dan kecantikan sunset Plawangan
Sembalun?
Sebelum memutuskan mendaki Rinjani,
pastikan :
1.
Memiliki
kondisi fisik yang prima, dibekali olahraga kardio, squat, dan kawan-kawan selama minimal empat kali seminggu. (Saya
agak miss disini. Jogging masih di-gas, tapi kalah karena
baru 20 menit udah ngos-ngosan)
2.
Memiliki
perlengkapan hiking yang memadai,
terutama sepatu. Karena trek Rinjani bukan candaan. (Agak miss juga disini karena tali sepatu hiking saya diganti tali sepatu Converse biasa)
Kalau belum punya hal-hal diatas yang
menurut saya sangat dasar untuk mountaineering,
jangan ke Rinjani! Tahan dulu
ego untuk mengecup salah satu dari Seven Summits of Indonesia. Karena foto
setelah ini mungkin membuat kalian berpikir dua kali :
![]() |
Trek berbatu menuju puncak yang membuatmu merosot cantik |
![]() |
Batu semua, cuy! |
Puji syukur, saya dapat kesempatan untuk
menginjakkan kaki di puncak Gunung Rinjani pada akhir Mei tahun 2018. Berbekal altophobia yang berusaha saya ingkari dan
lima kali nangis karena mental yang down,
terpukul oleh puncak PHP. Scroll lanjutannya,
pasti akan saya ceritakan seberapa menyebalkannya summit attack Rinjani.
Saya melakukan perjalanan ke Rinjani
bersama lima orangtua (Ayah saya dan empat orang teman pecinta alam alumni FE
UGM), empat remaja (termasuk saya, cewek 17 tahun berjiwa emak-emak 40 tahun),
dan satu orang porter dari Gunung
Gede bernama Kang Balon. Kami juga dibantu oleh empat orang porter kuat dan super baik. Salah satu
yang saya sorot dan beri penghormatan adalah Pak Beni, kepala porter kami. Orangnya super baik, sangat
kuat walau tubuhnya terlihat ringkih, dan punya keahlian masak bagai chef Shangri-La Hotel (berdasarkan
celetukan para Tante waktu makan siang di Sembalun).
![]() |
Pak Beni the superman. Porter Rinjani semua pakai gotongan kayak gini. Bahkan kadang mereka menggantung carrier di ujung bambu mereka. |
PRA-PENDAKIAN
Sebelum memulai pendakian, biasanya
para pendaki menginap di homestay di
Sembalun maupun Senaru. Saya sendiri menginap di sebuah homestay di Sembalun bernama Rinjani Family Homestay. Dalam waktu
3,5 jam dengan menggunakan mobil (ditambah waktu berhenti sebentar untuk makan
ayam + sambal plecing yang mantap abis) dari bandara, saya akhirnya sampai di homestay ini. Ukuran kamarnya cenderung
kecil, hanya berisi dua buah single bed, meja
yang menyuguhkan air mineral, dan kamar mandi dalam. Namun tempatnya bersih dan
terawat. Ada air hangat juga, jadi cukup nyaman untuk menyegarkan badan sebelum
lima hari tanpa mandi. Sarapan pagi juga disediakan oleh homestay ini dengan menu klasik : nasi goreng dan mie goreng.
PINTU GERBANG –
POS 1 PEMENTAN
![]() |
Selamat datang! Selamat tersiksa! |
Sinar matahari pukul dua belas siang
langsung membakar kulit begitu kami turun dari pickup. Perjalanan dari homestay
yang dekat dengan gerbang taman nasional ke gerbang pendakian memakan waktu
sekitar 30-45menit. Jika berjalan kaki bisa memakan waktu satu sampai dua jam.
Pendakian dimulai dari gerbang ini, yang menyajikan trek menurun dengan rumput-rumput
tinggi dan sinar matahari yang tidak dibendung apapun. Akan sangat baik jika
mengenakan topi dan baju lengan panjang untuk menghindari sengatan matahari.
Baju lengan panjang, kemeja flannel, dan sejenisnya memang sangat gerah jika
dipakai untuk berjalan di siang bolong seperti itu, tetapi sangat membantu jika
ingin mengurangi ‘keeksotisan’ kulit. Saya sendiri memilih untuk mengenakan
kaus lengan pendek tapi lengan dibalur sunblock
SPF 50 keatas. Hal itu saya pilih karena enggan gerah dan komentar seorang
teman, “Naik gunung kok takut gosong.”
![]() |
Trek savanna yang dijamin membuat kulit tambah eksotis |
Sangat jarang ditemui pohon dalam
perjalanan menuju Pos 1. Savanna terbentang luas di depan mata. Bau tidak enak akan kalian temui sepanjang perjalanan dan
mengharuskan untuk sesekali melihat ke jalan. Banyak ‘ranjau’ dari sapi, baik mengering
atau masih segar, siap mengerjai kalian.
![]() |
Pos 1 : Papannya doang |
Setelah dua jam berjalan, akhirnya
kita tiba di Pos 1. Ada sebuah shelter,
tukang jualan minuman dingin, dan ojek yang siap membawa ke Pos 2. Tarif ojek
adalah Rp50.000,00 – Rp150.000,00, tergantung tempat tujuan dan barang bawaan.
Saya sempat dengar untuk membawa carrier saja
mengharuskan kita membayar Rp50.000,00. Minuman dingin disini masih dijual
cukup murah, antara Rp10.000-Rp20.000. Semakin naik ketinggian, semakin naik
harga minuman.
POS 1 – POS 2
![]() |
Savanna terus sampe bosen |
Ada papan penunjuk di Pos 1 yang
mengatakan bahwa jarak Pos 1 ke Pos 2 adalah 1,4km. Jarak segitu mungkin adalah
jarak dari rumah ke minimarket terdekat, namun dalam pendakian itu adalah jarak
yang memakan waktu 1,5 jam sendiri. Trek menuju Pos 2 tidak jauh berbeda dari
trek gerbang-Pos 1. Masih savanna dengan pohon yang jarang-jarang. Namun sempat ada pemandangan yang cukup menarik, yakni sapi-sapi merumput di sebuah gunung. Entah milik siapa.
Pos 2 adalah pos termewah sebelum
Plawangan Sembalun. Ada dua buah shelter yang
cukup besar, bangunan sederhana yang saya duga sebagai kantor, tukang jualan
minuman, dan toilet dengan air bersih. Toilet menjadi kemewahan sendiri dalam
pendakian dan Pos 2 menyajikannya.
POS 2 – POS 3
Jarak sekitar 2,5 km harus ditempuh
menuju pos selanjutnya. Trek mulai menanjak namun belum berat.
POS 3
![]() |
Pos 3 dengan tanah pasirnya |
Pos 3 adalah pos tempat rombongan
kami bermalam untuk pertama kali. Kami tiba di pos 3 pada pukul 17.30, mulai
berjalan pukul 12.30. Sekitar lima jam perjalanan kami sudah tempuh di hari
pertama.
Pos 3 berupa tanah berpasir yang
tidak luas-luas amat, ditumbuhi rumput-rumputan tinggi, dan diapit bukit. Ada
sebuah gua di depan tanjakan berbatu menuju Plawangan Sembalun. Tidur disini enak karena tanahnya pasir, jadi empuk di punggung.
![]() |
Sarapan pagi : nasi putih + omelete Chef Beni. Mantap jiwa Kalau kalian sewa porter, dia bisa sekalian masak |
Tidak banyak yang dapat kami lihat
di Pos 3. Namun ketika malam datang, kami disuguhkan bulan purnama yang terang
benderang. Bintang-bintang juga bertebaran di langit yang jauh dari sentuhan
polusi, bahkan saya sempat melihat sekelebat milky way. Malam dihangatkan dengan nasi goreng dan atraksi omelete flip dari Pak Beni yang
menimbulkan sorakan kami. Bukti bahwa bahagia itu sederhana. #ea
#tidakmintadihujat
![]() |
Morning view from Pos 3. Sayangnya kelihatan banyak sampah disini |
POS 3 – BUKIT PENYESALAN
![]() |
Sedikit sedikit masih ada bukit. Nyesel nyesel dah lu |
Seperti namanya, Bukit Penyesalan
memang membuat orang menyesal telah naik Rinjani. Termasuk saya yang mentalnya
dapat disamakan dengan squishy ini.
Tanjakan-tanjakan tanpa henti, berbatu-batu, undakan yang dibuat oleh akar
pohon mampu membuat kaki dan hati lelah. Yang bikin lebih gentar adalah fakta
bahwa Bukit Penyesalan tidak hanya satu, namun tujuh. Wah, mantap mantap dah
tuh. Tujuh kali dibikin menyesal. Pastikan kalian makan yang berkalori dan
berprotein tinggi sebelum memijak Tujuh Bukit Penyesalan.
Saya berangkat dari Pos 3 pukul
8.30 WITA. Lepas landas dari Pos 3 langsung disambut dengan trek berbatu-batu.
Kami langsung berkeringat karena disambut oleh batu-batu besar. Trek ini menyulitkan
saya yang proporsi tubuhnya seperti tapir – kecil, berisi, berkaki pendek. Tanjakan-tanjak berbatu dan lama-lama meninggi jadi sebatas paha saya. Bukit demi bukit dilewati. Bukit yang diyakini tersulit adalah bukit kedua dan ketiga.
![]() |
Sebuah plang yang mengundang amarah |
Ada pos di bukit keempat atau
kelima, saya sudah malas menghitung jumlahnya. Pos disini hanya berupa shelter dan papan bertuliskan POS 4 :
BUKIT PENYESALAN. Saya meraung dalam hati, ngomel-ngomel. “Daritadi kita ngelewatin apaan dong kalau ini baru Bukit Penyesalan??!!
*masukkan kata kasar terhalus disini*!” Di depan shelter, kami disuguhkan pemandangan trek pendakian yang terus
menaik dan juga tower penanda
Plawangan Sembalun.
Trek pasca-shelter adalah bukit-bukit yang akan membentuk otot betis dan
pahamu. Tanjakan tiada henti dan bikin ingin nangis karena nggak sampai
Plawangan Sembalun menyeringai di bawah kakimu.
Tips
agar kuat mendaki Bukit Penyesalan : bandingkan setiap bukit dengan penyesalan
yang kamu alami selama ini!
Contoh
:
Bukit
1 : Nyesel pernah suka sama si R (contoh aja, inisial sama kayak gunungnya)
Bukit
2 : Nyesel pernah naksir sama si A
Bukit
3 : Nyesel dulu nggak mencoba lomba B, C
Bukit
4 : Nyesel pernah percaya sama si D
Dan
seterusnya
Dijamin,
Bukit Penyesalan tidak akan ada apa-apanya! Efek lain : malah jadi kesal
sendiri.
PLAWANGAN
SEMBALUN
![]() |
Bukit yang akan mengantar kita ke Puncak Rinjani |
“Akhirnya selesai juga Bukit PHP
ini,” komentar Kang Balon yang berjalan di belakang saya. Ya, setelah
berjam-jam diberi tanjakan tanpa ujung dan bukit yang masih ada bukit
diatasnya, kami sampai ke sebuah tanah lapang. Suasana berkabut ketika kami
sampai di Plawangan Sembalun. Belum sampai sih, namun ada checkpoint yang cukup menghibur yakni penjual minuman. Bahkan di
tempat ini dijual bir! You can easily buy
a Bintang here, cukup merogoh Rp90.000,00 dari dompet. Sementara itu, tower yang daritadi kami lihat dari
Bukit Penyesalan/PHP/Penyiksaan masih menjulang di depan.
Kami sudah sampai di Plawangan
Sembalun setelah berjalan singkat. Pendaki lain, yang duduk-duduk sambil makan sate ayam dan daging burger, menyambut kami. Porter telah mendahului, memasang tenda, dan mengambilkan air dari
mata air. Kebetulan yang sudah sampai baru saya, Kang Balon, dan
ketiga cowok sebaya, kisaran umur nggak jauh-jauh amat.
![]() |
\ |
![]() |
cr : Tante Merry |
Plawangan Sembalun adalah bukit
indah penuh tenda yang sering kalian lihat jika mengetik kata kunci ‘Rinjani’
di Google. Di depan tenda saya, berdiri gagah Puncak Rinjani yang rasanya dekat
dimata. Danau Segara Anak terletak di sebelah Barat, agak ke Barat Daya atau
Barat Laut saya kurang mengerti. Ketika matahari mulai bergerak ke Danau Segara
Anak, alam semesta mulai menunjukkan keindahannya yang luar biasa. Jangan
sampai tidak mengeluarkan kamera dan mengumpulkan foto-foto Instagramable di
waktu sunset.
![]() |
Morning (or evening?), Plawangan. |
Plawangan Sembalun adalah tempat camp terakhir sebelum puncak. Disini
masih ada penjual minuman dan mata air yang bisa digunakan untuk mandi. Penjual
minuman terletak agak di bawah, dekat dengan jalan menuju Bukit Penyesalan.
Mata air terletak cukup jauh, namun dijamin sangat menyegarkan. The view here is breathtaking, beautiful,
and camera-worthy. Di samping itu, keep your eyes open dan jaga barang bawaan dengan baik karena banyak monyet nakal di daerah ini! Pastikan tenda selalu dalam keadaan tertutup agar tidak jadi bahan kejahilan monyet-monyet tersebut.
SUMMIT ATTACK :
MENYAPA DEWI ANJANI
![]() |
Tanjakan manjiw |
Puncak Rinjani, tempat para pendaki
meletakkan ambisi dan terkadang ego. Tujuan utama yang sering dikumandangkan
dalam pendakian di gunung super cantik ini. Tempat orang bisa berfoto sambil
tersenyum dengan bangga karena dapat menyentuh puncak tertinggi di Pulau
Lombok, dapat meraih salah satu dari Seven Summits yang diimpikan para pendaki.
Namun dalam meraih sesuatu yang ‘besar’ tidaklah mudah.
Jika kalian ingin mendaki Rinjani
sebatas ingin meraih puncak, jangan! Tujuan
utama kita mendaki gunung adalah pulang dengan selamat. Puncak Rinjani adalah
ajang uji fisik dan mental. Memang sangat indah, tetapi jika hanya ego yang
memimpin kalian untuk memulai pendakian, lebih baik jangan.
Idealnya memulai pendakian adalah pukul
12 malam. Waktu tempuh menuju puncak adalah empat jam (standar porter dan guide) hingga tujuh jam (standar saya si mental tempe). Rombongan
kami baru terbangun jam satu dini hari. Dilanjutkan oleh sarapan yang kelamaan
karena masakan Pak Beni enak sekali.
Turun sedikit dari Plawangan Sembalun,
siap-siap disambut oleh trek curam yang terdiri dari tanah berpasir. Dua
langkah maju mengharuskan kalian untuk merosot satu langkah. Jalur pun sempit
dan harus mengantri dengan pendaki lain. Bahkan sesekali harus melepas trekking pole dan naik dengan bantuan
tangan. Dari sinilah mental mulai diuji. Setelah satu jam melewati trek
berpasir yang curam itu, kita akan sampai di bukit yang landai. Segara Anak akan
ada di sebelah kanan kalian, sudah terlihat indah di ketinggian 3.000 sekian. Selanjutnya,
kaki akan terus dihajar oleh trek berpasir yang licin.
![]() |
Otw merosot |
Trek menuju puncak akan sangat menguras
mental dan fisik. Kita akan merasakan sepatu kita tenggelam di dalam pasir.
Kita seakan nggak maju-maju, hanya jalan di tempat. Merosot malah. Puncak
Rinjani terlihat sangat jauh, tidak berbanding lurus dengan langkah yang
sedikit demi sedikit. Saya tiba di tanjakan tersebut saat matahari sudah
terbit. Matahari naik, mental saya turun. Melihat ke belakang merupakan hal
menakutkan untuk saya yang sebenarnya takut ketinggian.
Butuh saya tegaskan, wajar kok untuk menangis saat mendaki Rinjani.
Wajar untuk kita merasakan mental kita
jatuh saat terus-terusan merosot di pasir. KARENA MEMANG SUSAH, TOLONG
JANGAN SOK KUAT! Namun ketika kita terus
maju, mengalahkan ketakutan dan keraguan kita, kita akan perlahan mencapai
puncak. Inilah mengapa saya suka naik gunung, ada filosofi yang bisa diambil
tentang mengalahkan diri sendiri.
Akhirnya tanjakan super panjang dengan
kemiringan hampir 900 usai juga. Saya sudah hampir bernapas lega.
Namun ketika menoleh ke kiri, ADA LAGI TANJAKAN BRO UNTUK SAMPAI PUNCAK.
Spontan saya langsung menangis dan merasa ingin menyerah saat itu. Namun tanggung,
saya sudah ada di ketinggian 3.600-an mdpl. Ditambah ada beberapa anak muda
baik hati yang kami temui di Pos 3 sebelumnya, siap membantu dengan menyediakan
webbing. Gila, di saat sulit seperti
itu saya bersyukur ada orang-orang yang membantu. Orang yang baru dikenal lagi.
Memang selalu ada kejutan saat kita sedang mendaki gunung.
![]() |
Udah father-daughter goals belum? |
![]() |
Nggak kelihatan kayak habis nangis 5 kali kan? |
Pukul 09.30, saya dan Ayah saya tiba
di singgasana Dewi Anjani. Danau Segara Anak membentang dan terlihat dua kali lebih indah daripada saat di kaki gunung (only a metaphor). Bukit-bukit, lautan awan, dan samudera Hindia terlihat
dari puncak tertinggi nomor tiga di Indonesia. Pujian kepada Sang Pencipta
dilayangkan dari tempat ini. Sampai di puncak akan menimbulkan melankoli
sendiri, tidak peduli seberapa jenaka, unexpressive,
atau sinisnya kamu. Ada air mata yang ingin terdorong keluar dari pelupuk
mata. Rasa bangga, syukur, dan kekaguman karena keindahan alam dapat kalian
rasakan di Puncak Rinjani, ketinggian 3.726mdpl.
(tbc to SENARU-SEGARA ANAK)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Mahasiswi hampir lulus yang suka jalan-jalan tapi gampang mabok laut. Suka mengulik gaya hidup zero waste dan isu lingkungan.
Komentar
Dahsyaaaatttt......inspiratif..
BalasHapus